Sunday, 16 December 2018

Ketika Kasih hanyalah seuntai kata tak bernyawa

SEBELUM KAU PERGI DAN MENYADANG RUANG BARU
Bab baru dalam ceritaku ,


Mungkin, pertemuan ini sudah waktunya untuk disambut hangat dengan tawa jenaka & senyum konyol sesekali dibalik rasa - rasa gembira  awal dari sebuah pertemuan melalui prantara dimensi maya yang berujung perjamuan satu salam lain,di waktu usang kita akan kunjungan lalu dimasa kemarin pada tempat yang selalu kita namankan masa lalu.

Kau kenalkan dialog kelam, untuk memberi ku respon  lebih untuk  iba semata kan berujung perjamuan selanjutnya ketika percakapan pertama ini, belum siap kau akhiri.
lantas, yang ku rasa saat ini, kepedihan yang terdengar dalam dialog mu, membuatku ingin merespon mungkin, dengan cara itu aku bisa tau bagaimana ku mencintai karakteristikmu.

Perjamuan tatap dialog, dalam prataran dimensi lain, dan esoknya enggan untuk sekedar berdialog melalui udara tapi lebih berkesan dengan caramu, menatap setiap ekspresif plot dialogmu yang berbeda dari hari kehari.

Membuat ku, pulang tepat waktu dan tak sabar untuk menunggunya pulang dari rutinitas & berperan kembali dalam dimensi lain, yang ditunggu untuk merasakn percikan fantasi - fantasi baru dalam bab ini.

Tahap kompleksifikasi

Perjamuan waktu ke waktu, lengkaplah sudah kompleksifikasi secara bertahap,
dalam setiap perjamuan selalu ada hidangan dialog - dialog berupa jenis & rasa yang telah sama - sama kita teguk & kunyah tanpa ada perdebatan besar yang kiranya aku pikir ini sebuah tahap akhir dalam perjamuan berikutnya.

Mengharapkan, yang ku lihat dalam radar udara kan menjadi realitas dalam bentuk yang benar ada & hidup pada pengharapan yang seharusnya terwujud & berbuah manis pada panggung realitas ruang yang nyata antara aku & kamu.

Artinya, kau sudah siap tak sekedar singgah  dalam sepekan separuh waktu saja, belum sempat  terutarakan lebih, tapi sudah ku persiapkan segala konsekuensi bagaimana ku harus merelakan ego yang harus diredam untuk menjadi imbang saat bersamanya, namun sudah hilang dalam sepekan tanpa sepatah kata.


Pilar keyakinan yang merapuh ,


Pikirku berhamburan dihampir setiap malam, hanya bisa meratapi lorong kosong dalam ruang yang hilang, tak berpenghuni .
sesekali ku tatap layar ponsel dalam genggam tangan dan mengamati sesekali waktu yang terlewati tanpa arah pasti dalam pengharapan.

Cemas , tak berarah perih lirih yang tak terbentuk lagi bagaimana kah ku uraikan kembali rasa yang melebur menjadi kecewaku hingga dini pagi, kemudian tekat ku telurusi kembali jejak awal ku menemukanya di dimensi prantara ku mengklaim, jejak awalku jumpa denganya.

Kutemukan ruang lain sebuah halaman yang menjadi sesekali tempat ia singgah untuk jeda dari rutinitas harianya.
menyelinap dari balik pintu lain untuk tidak meninggali jejak yang akan ia kenali saat itu,
langkah terhenti tak sepatah kata terucap , air mata membendung praduga - praduganya & ku biarkan rasaku melebur, perihku saat kujumpa dirinya dengan realitasnya.

Kesaksian terbendung oleh si amatir 


Bungkam , tapi masih mengamati dari ruang prantara dimensi lain, segudang tanya  berusaha ku pendam tuk tak terutarakan menahan diri, dan mencoba memberikan tanda untuk ia kenali dalam dimensi prantara lain, namun tetap tak ada respon yang kuharap.

Dalam renungan pagi dini, ku bertanya kembali pada tuhan & palung hatiku.
secepat itukah sebuah dialog menciptakan  rasa yang perpanah dalam  rusuk rentan  menjadi seuntai kata tak berarti.
atau kah ku terlalu terbawa oleh plot  perjamuan dialog - dialognya ?

masih membungkam dan enggan untuk membuat semua kompleksifikasi ini menjadi hal yang jelas terurai, alur  yang ia mainkan.
dan kesan apa, yang ia isyaratkan dalam sepekan kemarin.


Panggung Sandiwara belaka

Pada akhirnya rasa terbawa oleh alurnya, katakan saja ku mulai jatuh cinta pada dialog sepekan kemarin cara ia menyampaikan & memberi pesan.
Pada fase ini jatuh cintaku itu bisa menjadi lelucon buatnya yang sudah berhasil membuatku terkesima.

Dalam panggung prantara dimensi lain, kiranya bisa ku wujudkan menjadi nyata dalam realitaku,

belum ,,,
semesta belum mengizinkan ku masuk ruang waktu berikutnya.
belum sempat ku mengutarakan tuk menghadirkanya  ke ruang realitasku ini,
mendengar dia diruang dimensi lain yang secara tak langsung, berdialog riya.

Setiap plot yang dimainkan, berhasil membawa ku dalam bayangan realitas yang sebenarnya, aaah lemah sekali ....
sekilas ku menghibur diri yang nyatanya memang rapuh dalam pengarapan semu ini,

Tekat kedua,  memberanikan diri menelusurinya diruang pratara itu, kemudian membuka pintu ku sendiri mencoba menyapa dan tanpa jawab ku sudah siapkan mental ini untuk tidak berharap lebih, dia kan merespon salamku.

Disambutlah, aku di ruang pratara lain, namun ku putuskan meredam kembali untuk merespon pesan terakhirnya, mencoba bermain amatir seperti peran yang ia mainkan dihadapanku.

Sudah , dua pekan dan kini masuk dalam pekan ketiga.  aku lebih mempersipkan diri untuk melihatnya lagi dengan relitasnya,

tapi ah sudah, lelahku di ujung penat menyaksikan dalam bisu tanpa mengakui bahwa ku ingin ia menjadi nyata dalam realitasku.


*Hai, awal dari ribuan sambutan yang sama dalam ruang - ruang pertemuan adam & hawa, awal kisah yang teruntai makna indah sebelum pada akhirnya terpisah oleh intensitas waktu yang tak pernah kekal dalam setiap kisahnya dan pada akhirnya kasih hanyalah sepenggalan kata tak bersenyawa yang tak mampu mengembalikan rasa yang timbul oleh senyawa yang berbeda*


Dan semua kan terkubur dan melebur dengan tanah seiring waktu, jadi apakah kita selanjutnya? saat kekuatan keyakinan menjanjikan kekal di kehidupan kemudian hari oleh kata yang tak bernyawa terucap dari senyawa lainya.
kita kan tetap berpijak dalam panggung - panggung plot dialog sandiwara  lainnya.
dengan buah karma di kehidupan sebelumnya.


💭 jangan di imani oleh keyakinan realitasmu ya, biarkan apa yang tertulis disini , menjadi seuntai makna pembelajaran setiap kata kata tak bersenyawa yang terangkai oleh jari jari nitizen seperti saya 🙊 



No comments:

Post a Comment