Sunday, 16 December 2018

Dilema Pagi Dini



Menjadi bagian yang selalu di nanti setiap pagi & membuka mata untuk menjadi yang dirindukan kala pagi itu, selalu menjadi sebuah pengharapan sejak beberapa tahun silam, saat ku mulai rindu patron - patron waktu yang hilang saat besamanya. 
Membuka ketukan pintu,

Mulai, merindu dalam diam & menahan ekspetasi untuk jadi rindu, yang kian disambut baik dengan sinyal yang kuciptakan sendiri, beribu suara dalam pikir ini yang riuh berjudi menerka - nerka esok yang akan datang, apakah dia menerima suatu hukum atraksi gravitas yang kuciptakan sendiri dalam benak ini?!.


Satu dari kesekian konsep yang ku temukan ,pelajari & kini ku sadari bahwa aku berada di satu dari kesekian konsep yang tak seharusnya aku mainkan,
dua dari kemungkinan yang nantinya akan ku hadapi & ratapi. 
dimana aku akan ditempatkan dalam permainan labirinnya atau aku berhasil menempatkanya pada labirinku tuk menemukan teka teki ruang diantara aku & dia.

Kemudian , semesta menerima sinyal atraksi gravitasi ruang dilema ku ini, mereka mempunya cara sendiri untuk menyampaikan jawaban dari segala kegundahan kala malam itu, sendu yang ku rasa dalam abu - abu.

Pagiku yang kemudian berubah menjadi kelabu & kurasa ruang ini mulai mendingin ketika segala rasa yang sudah tertanam harus ku relakan terkubur, bahwasanya rasa ini ialah  ilusi semu yang ia ciptakan oleh kesan untuk menarikku dalam labirinnya & secara tidak langsung mengenalkanku dalam penderitan kecil yang ia rasakan dulu kala.


Dia, satu dari kesekian yang datang, yang singgah memberi kesan dalam setiap dialog - dialog diataranya kemudian pergi tanpa pesan, entah kesan apa yang membuatku jatuh terlalu  jauh dalam dimensi palung ilusi rasa yang baru ku pertanyakan inikah cinta?!.


Pada akhirnya kata rindu hanyalah pesan kembali untuk tidak memasuki ruang lain mengenai dirinya, dan kata cinta yang ku pertanyakan dalam waktu singkat ini hanyalah jebakan dimensi ilusi semu dengan berekspetasi riya ku pilih bersama ego dalam tempo singkat tanpa pertimbangan logis warasku.


Ego,
 Kembali yang ku pilih dalam waktu singkat tanpa logis, kiranya ini yang selalu ku sombongkan ketika dengan yakin tuk menutup pintu dan tidak mempersilahkan orang lain yang kurang berkesan bagiku saat mengetuk pintu ruang hatiku tuk sekedar  singgah  berbincang sesaat.

Pada fase berikutnya aku sadar, bagian ini hanya meninggalkan goresan-goresan  ruam kecil dalam ruang ini dan berkotemplasi dengan dilema kembali, beragumentasi sendiri antara ekspetasi riaku & realitas yang tak pernah sejalan dan ku putuskan untuk membawa namanya dalam doa & bermeditasi diri.

        Melaraskan Warasku, 

Bukan untuk belajar melupakan-nya, melaikan merelakan yang telah terjadi, tetap mengingatnya dan aku baik- baik saja oleh kehadiranya, jika suatu saat nanti rasanya kembali & ruam ini mulai menginsyaratkan rasanya, aku bisa beragumentasi baik & bernegoisasi waras dengan kehadiran-nya.

Karna ku cukup sadar untuk mulai mencintai diriku untuk tidak membiarkan hatiku menikmati rasa terbawa lara & pedih oleh ego - ego diri yang tak pernah selaras dengan realitas, menyayangi tubuh yang sudah letih dehidrasi karna seisi otak yang tak mau berdamai diri membiarkan ruh ku hidup diwaktunya, tidak dengan menguncinya saat dia harusnya masuk alam mimpi. 


sampai berjumpa di ruam dilema  selanjutnya. 😄🙏

No comments: