Tuesday, 23 April 2019

RUANG SEMU


 SEMU
Teruntuk diriku yang mencitaimu dalam diam .........

malam seakan tak mampu menjawab semua gundahku
terbendung dalam dilema yang tak berkesudahan
semua yang terbendung tak mampu tertahan terlalu dalam
kecewa yang kini kurasa hanyalah sebagian kata yang mampu ku ungkapkan dari ratusan kata terucap, yang tak mampu ku utarakan bagaimana untuk menguntai kata per kata menjadi suatu hal yang mampu menusuk ruang  dalam palung hatimu,

senja pun hanya mampu memberikan kehangatan kala hati menjadi halu biru, langit kala itu
menggambarkan suasa hati, kini akupun mulai takut dalam diam
takut untuk menghancurkan harapan dan mimpi yang ku temukan didepan mata,
takut sepi menyelimuti malam - malam ku kembali dalam gelap


ku fikir hadirmu sebagai cara yang akan menerangkan jalan gelap dalam sepiku
ku pikir kualah fajar yang akan menjadi  cahaya pertama  kala pagi menjelang
ku pikir kaulah keindahan senja selepas usai siang kan berganti gelap
ku pikir kaulah tuan yang akan menjadi penghuni dalam relung - relung hampaku

Kuberdiri dalam ujung waktu yang tak berporos arah alur detak waktu dalam ketidak pastian
kau nyata dalam waktu ku, bahakan semua yang kurasa begitu nyata untuk ku utarakan dalam ruangku, namun tidak nyata untuk ruang kosong dalam hatimu...
tak sedikitpun aku mampu melihat apa yang sebenarnya ada didalam hatimu,
bahkan benakmu untuk menempatkan ku pada ruang terdalammu

menyematkan namamu dalam setiap doaku untuk memiliki mu bukan sekedar dipelupuk mata
meminta waktu untuk berpihak untuk segala harapan  kepastikan yang selalu dinantikan pada buah pasti
berserah dalam sebuah harapan semu  tergantung penuh resah di ujung asa
semua rasa yang menggerakan seluruh raga & hati bertempur arah yang berlawan,
menjadi perih tak berkesudahan , menggantukan diri pada penantian kematian hati kemudian


jadi apakah aku ini?
ruang seperti apakah aku ini?
jika, semua asa dapat ku simpan sejenak tanpa dirasa
mampukah aku meninggalkan mu dengan cara ku?






Monday, 22 April 2019

RINTIKSEDU

TERUNTUK BUAH CINTA PADA DIMENSINYA
kamis, 18 april 2019 ðŸ¥€ðŸ¥€ ðŸ¥€

Sebuah cemas yang menyelimuti diri membawaku perlahan dalam lelap malamku yang kosong tanpa arah,
hilang di makan oleh kecewa serta gunda yang tak berkesudahan, namun sebuah mimpi membawaku dalam rasa  lebih nyata hingga terbangun & terjaga dini pagi, masih lekat semua pernyataan yang terucap dari mu,kembali membawa kepahitan yang tak bekesudahan dalam relung - relung dini pagi, sesak memuat semua kepedihan yang terbendung kemudian hanya derai air mata kembali menggenang diantara ketakutan serta kegundahan yang ku rasa dini pagi.hingga selepas fajar berpisah diantara tanggis,

Meredam perlahan  kesedihan yang kunikmati sedari terbangun, terjaga membuatku kini bangkit untuk memulai doa pagi & menyematkan namamu diantara semua perkara yang terjadi kala itu.
seketika damai mulai merasuk diantara doa - doa pagiku, sebuah keteduhan yang lama hilang kini kembali kurasa diantara keresahan berselimut sejuk embun pagi.

Ku tetapkan langkah  pertama pada tempat dimana ku akan melakukan diagnosa palsu dengan harapan mendapati penawar atas kegundahan yang semakin hari membawa ku pada titik dilema. Gundah dalam tingkatan waktu berdetak cemas menumbuhkan  keputuasaanku pada titik mati dikemudian hari.

Kemudian segerombol takut & resah mulai memarasuki pikir , ditengah ruang hening pecah sebuah percakapan diagnosa - diagnosa palsu, 4 mata menyorotku penuh iba, seakan mengerti bahasa isyarat mata ku mencoba menutupi kebenaran yang sesungguhnya,kemudian ibu separuh baya menarik ku  kembali pada ruang lain, menawarkan 2 kemungkinan lugas dengan berat ku menjatuhkan pernyataan akhir atas dasar sebuah masa depan dikemudian hari.

Menampaki lorong - lorong seribu vonis dengan kosong, merebahkan tubuh dengan seribu ketakutan yang tak berkesudahan mengguncang metal kemudian  pecah diantara diskusi mendekat eksekusi, jarum - jarum halus menembus nadi,kurasa panas beserta perih mengalir di antara pembuluh darah terasa membakar sesaat & selang - selang nafas kini mulai terpasang, kemudian rintih mulai membuat sekujur tubuh kelu bercampur perih tak  tertahan , diantara rintihanku suara lain meyakinikiku bahwa ini akan berlalu cepat kemudian gelap sesaat.

Pening mulai merasuk diantara takut serta perih tak tertahan, kemudian pecah kepedihan ku akan sebuah rasa kehilangan yang tak berkesudahan, mungkin aku terlalu naif untuk merasakan ini dalam arti kehilangan , kemudian bangkit penuh duka melangkah melewati lorong - lorong gelap dengan tanggis ,beberapa mata menyorot sendu sembari resah menunggu jua, ibu separuh baya & pengasuhnya merangkul dengan iba diantara langkah isak tanggisku, kemudian detak waktu mengiringi ku pada ruang kehampaan selanjutnya, waktu peralihan tengah hari menuju ruang pulih ,menatap langit penuh kekosongan.

Lamunku pecah ditengah cakap  ibu paruh baya sembari menyupir,memberikan wejangan akan harapan baru kembali  dimasa depan.
luruh sebuah asa diujung rasaku tentang ruangku padamu, tentang mimpi ku, cerita kita kelak.
sebuah mimpi telah pecah berhamburan tepat hari ini,

TERUNTUK BUAH KASIH & RELUNG RELUNG KOSONG 


Teruntuk kasih yang pernah menjadi bagian - bagian terdalam hingga menanam celaka diantara nafas & tulang rusuk ku, meski kini kita beradu pada titik  keruntuhan yang lekat akan perpisahan jarak serta rentang waktu .
Teruntuk hati yang tak pernah bertuan , untuk tubuh yang selalu menjadi singah sana siapapun yang bekenan tuk sekedar berbagi kesenangan sesaat, aku yang pernah menjadi tuan dalam ruang imajinasimu dengan rasa semu ini kemudian patah segala asaku, padam kasihku oleh semua realitas,sampai nanti semua tentang kita pergi  simpanlah 1 ruang untuk mengenangku kala patah asamu mendera kembali berserta ketakutanmu akan masa lalumu, jadikan aku satu titik cahaya yang takan pernah membuatmu padam pada ruang gelap & kosongmu.

Dan pada akhirnya cinta akan menjadi sepenggal  kata tanpa makna, bagi jiwa yang datang & pergi dengan rasa pudar didera oleh kecewa,pekat akan sebuah sikap buta oleh rasa yang merekat mereka sebut  inilah cinta yang berproses, diatas keinginan ego-,

teruntukmu yang memenangkan hatiku, meski bukan yang terpilih menjadi yang seperti kau harapkan, maaf ku mengiringi langkahmu diruang perjalananmu selanjutnya atas kehilanganku atas kepergian dia dan perpisahan kita.
teruntuk ragamu yang menikmati malam silir berganti pada tubuh yang berbeda menjelama menjadi yang dinanti & pergi meninggalkan yang disakiti.

Pada akhirnya waktu menitik temukan perjalanan akhir dari sebuah kisah pertemuan pada perpisahan seperti kisah kala siang usai & melepas senja pada malam-,  kerinduan  💙 Pandi Manippo siregar