 |
| TERUNTUK BUAH CINTA PADA DIMENSINYA |
kamis, 18 april 2019 🥀🥀 🥀
Sebuah cemas yang menyelimuti diri membawaku perlahan dalam lelap malamku yang kosong tanpa arah,
hilang di makan oleh kecewa serta gunda yang tak berkesudahan, namun sebuah mimpi membawaku dalam rasa lebih nyata hingga terbangun & terjaga dini pagi, masih lekat semua pernyataan yang terucap dari mu,kembali membawa kepahitan yang tak bekesudahan dalam relung - relung dini pagi, sesak memuat semua kepedihan yang terbendung kemudian hanya derai air mata kembali menggenang diantara ketakutan serta kegundahan yang ku rasa dini pagi.hingga selepas fajar berpisah diantara tanggis,
Meredam perlahan kesedihan yang kunikmati sedari terbangun, terjaga membuatku kini bangkit untuk memulai doa pagi & menyematkan namamu diantara semua perkara yang terjadi kala itu.
seketika damai mulai merasuk diantara doa - doa pagiku, sebuah keteduhan yang lama hilang kini kembali kurasa diantara keresahan berselimut sejuk embun pagi.
Ku tetapkan langkah pertama pada tempat dimana ku akan melakukan diagnosa palsu dengan harapan mendapati penawar atas kegundahan yang semakin hari membawa ku pada titik dilema. Gundah dalam tingkatan waktu berdetak cemas menumbuhkan keputuasaanku pada titik mati dikemudian hari.
Kemudian segerombol takut & resah mulai memarasuki pikir , ditengah ruang hening pecah sebuah percakapan diagnosa - diagnosa palsu, 4 mata menyorotku penuh iba, seakan mengerti bahasa isyarat mata ku mencoba menutupi kebenaran yang sesungguhnya,kemudian ibu separuh baya menarik ku kembali pada ruang lain, menawarkan 2 kemungkinan lugas dengan berat ku menjatuhkan pernyataan akhir atas dasar sebuah masa depan dikemudian hari.
Menampaki lorong - lorong seribu vonis dengan kosong, merebahkan tubuh dengan seribu ketakutan yang tak berkesudahan mengguncang metal kemudian pecah diantara diskusi mendekat eksekusi, jarum - jarum halus menembus nadi,kurasa panas beserta perih mengalir di antara pembuluh darah terasa membakar sesaat & selang - selang nafas kini mulai terpasang, kemudian rintih mulai membuat sekujur tubuh kelu bercampur perih tak tertahan , diantara rintihanku suara lain meyakinikiku bahwa ini akan berlalu cepat kemudian gelap sesaat.
Pening mulai merasuk diantara takut serta perih tak tertahan, kemudian pecah kepedihan ku akan sebuah rasa kehilangan yang tak berkesudahan, mungkin aku terlalu naif untuk merasakan ini dalam arti kehilangan , kemudian bangkit penuh duka melangkah melewati lorong - lorong gelap dengan tanggis ,beberapa mata menyorot sendu sembari resah menunggu jua, ibu separuh baya & pengasuhnya merangkul dengan iba diantara langkah isak tanggisku, kemudian detak waktu mengiringi ku pada ruang kehampaan selanjutnya, waktu peralihan tengah hari menuju ruang pulih ,menatap langit penuh kekosongan.
Lamunku pecah ditengah cakap ibu paruh baya sembari menyupir,memberikan wejangan akan harapan baru kembali dimasa depan.
luruh sebuah asa diujung rasaku tentang ruangku padamu, tentang mimpi ku, cerita kita kelak.
sebuah mimpi telah pecah berhamburan tepat hari ini,
TERUNTUK BUAH KASIH & RELUNG RELUNG KOSONG
Teruntuk kasih yang pernah menjadi bagian - bagian terdalam hingga menanam celaka diantara nafas & tulang rusuk ku, meski kini kita beradu pada titik keruntuhan yang lekat akan perpisahan jarak serta rentang waktu .
Teruntuk hati yang tak pernah bertuan , untuk tubuh yang selalu menjadi singah sana siapapun yang bekenan tuk sekedar berbagi kesenangan sesaat, aku yang pernah menjadi tuan dalam ruang imajinasimu dengan rasa semu ini kemudian patah segala asaku, padam kasihku oleh semua realitas,sampai nanti semua tentang kita pergi simpanlah 1 ruang untuk mengenangku kala patah asamu mendera kembali berserta ketakutanmu akan masa lalumu, jadikan aku satu titik cahaya yang takan pernah membuatmu padam pada ruang gelap & kosongmu.
Dan pada akhirnya cinta akan menjadi sepenggal kata tanpa makna, bagi jiwa yang datang & pergi dengan rasa pudar didera oleh kecewa,pekat akan sebuah sikap buta oleh rasa yang merekat mereka sebut inilah cinta yang berproses, diatas keinginan ego-,
teruntukmu yang memenangkan hatiku, meski bukan yang terpilih menjadi yang seperti kau harapkan, maaf ku mengiringi langkahmu diruang perjalananmu selanjutnya atas kehilanganku atas kepergian dia dan perpisahan kita.
teruntuk ragamu yang menikmati malam silir berganti pada tubuh yang berbeda menjelama menjadi yang dinanti & pergi meninggalkan yang disakiti.
Pada akhirnya waktu menitik temukan perjalanan akhir dari sebuah kisah pertemuan pada perpisahan seperti kisah kala siang usai & melepas senja pada malam-, kerinduan 💙 Pandi Manippo siregar