Wednesday, 26 December 2018

PERKENALAN SANG PENGISI RUANG SEMESTA

DOA 




PENGANTAR PESAN PERANTARA

Hai, perkenalkan namaku DOA ....
aku adalah perantara pesan suka dan dukamu pada tuan yang kau imani ...
aku tak bertuan  di semesta ini...
aku adalah bagian - bagian kecil yang tercipta sebagai pengisi ruang semesta kosong ini.
untuk memberi percik-percik  kehidupan dengan hadirnya aku diantara ruang renungmu.

Aku selalu hadir dalam sebuah perkumpulan umat manusia yang sedang mengisi harinya saat  suka dan duka atau sekedar pengisi bagian ruang mereka yang sedang mencari tuan yang mereka imani.
kerap , aku sering terlupa kala manusia bersuka akan kenikmatan duniawi
tak banyak , namanku terselip oleh sebagian orang yang mengingat syukur ketika mereka memperoleh hadiah dari buah duniawi.

Aku menjadi bagian yang hampir selalu disebutkan dalam sebuah penantian seseorang, untuk menggapai mimpi / harapan  dalam tujuannya.


AKU....
mampu menciptakan tanggis dalam gelap, takut ataupun trauma bagi seseorang....
melebur semua kepedihan itu, menjadi penawar rindu yang tak akan pernah kembali pada hal yang sama.
kemudian aku juga yang mampu menciptakan tawa,di tengah ruang realitas manusia yang bersendu gurau kala mereka mengimani ku dengan caranya.

Aku bukanlah sesuatu yang perlu kau takuti, saat mengucap / menulis pesan - pesan pararel mu dan kau bingkis dengan namaku.
Jika, ada lisan yang terucap secara tidak langsung untuk lawan / kawan  yang membingkis namaku dengan kutukan sumpah serampah, maka aku bukanlah DOA,
melainkan KUTUKAN buah yang kau tanam sendiri   dan disitu aku berperan kembali untuk menuntunmu pada caraku.

Jika kau selalu mengisi ku dalam intensitas waktu mu yang sering, dan mengisi banyak pesan- pesan baik dalam wadah mu, niscaya jiwamu  kan hidup selaras dengan warasmu.
Dan, mari ku hantarkanmu pada sebuah bahagiamu yang tak ternilai materi atau terukur oleh sebuah paradigma kehidupan relatismu.

ingatlah aku  hingga di penghujung usiamu nanti, sertakan aku diwaktu penutup akhir matamu terpejam & ku telah  siapkan kereta kencana diruang berbeda untuk mengantar mu pada tempat yang layak sedalam wadah doa - doa semasa hidupmu






WAKTU
PERON - PERON PERJALANAN KISAHMU

Hai, aku waktu.....
semesta yang telah menempatkan ku kuat akan kuasa kedua yang tercipta oleh sang pemilik semesta ini, seketika aku bisa membawamu ke ruang yang luas nan jauh melampaui batas alam bawah sadarmu,,,,
janganlah kau takut pada keberadaanku ini...
meskipun aku sering menjadi sebuah perdebatan kecil berdampak besar bagi para pengembara yang kurang bijak untuk memperdayakan keberadaanku ini...

Ruang imajinasi tak terbatas para sang pencari mimpi.......

kerap banyak yang memciptakan ku dalam bentuk beserta wujud se-abstrak mungkin  terbawa dalam ruang berimajinasi realitas kehidupan manusia....
sering kali mereka, meyakini bahwa aku berbentuk sebuah stir putar yang mampu memutar balikan waktu serta memperbaikinya / sekedar singgah untuk menggubah masa depan.

pesan moral yang manusia ciptakan untuk sesamanya jika mereka sudah paham dengan adanya keberadaaanku ...

Aku masih  menjadi misteri dalam intesitas ruang semesta ini, akupun hanya sebagian kecil karya sang pecipta alam ini, dan menjalankan tugasku tuk mengisi ruang semesta ini untuk menjadi penanti ataupun yang dinanti - nanti.


aku bukanlah kegundahan yang perlu kau risaukan di masa depanmu...
bersuka lah padaku, kan kuselipkan sebuah proses pembentukan mentalmu yang akan mengantarkanmu pada kesiapanmu melihat masa depan.....

aku hanyalah sebuah proses pembelajaranmu atas sebuah kejadian yang sudah lampau
aku buah yang telah kau tanam dan siap kau petik pada penantianmu.

Selama kau bisa melihatku dalam wujud jarum tipis yang menjadi poros penentu siang serta malamu, makan imanilah aku secara bijaksana.

saat aku berwujud indah kala fajar, akan ku selipkan pesan indah untuk mengawali harimu
saat aku berwujud sendu kala senja , bersuka dukalah bahwa kau masih menikmati nafasmu dalam ruangku hingga gelap tiba melahap cahaya ilahi.


Aku mungkin menjadi intensitas terbatas dalam batas usiamu,,
tapi tidak untuk mematikan secara kekal semua yang tumbuh & mati pada usianya, porosku berputar untuk menjemputmu kala kelahiran  & mengatarmu pulang pada penghujung usiamu


aku yang masih menjadi misteri akan sebuah sejarah semesta ini.

Sunday, 16 December 2018

Ketika Kasih hanyalah seuntai kata tak bernyawa

SEBELUM KAU PERGI DAN MENYADANG RUANG BARU
Bab baru dalam ceritaku ,


Mungkin, pertemuan ini sudah waktunya untuk disambut hangat dengan tawa jenaka & senyum konyol sesekali dibalik rasa - rasa gembira  awal dari sebuah pertemuan melalui prantara dimensi maya yang berujung perjamuan satu salam lain,di waktu usang kita akan kunjungan lalu dimasa kemarin pada tempat yang selalu kita namankan masa lalu.

Kau kenalkan dialog kelam, untuk memberi ku respon  lebih untuk  iba semata kan berujung perjamuan selanjutnya ketika percakapan pertama ini, belum siap kau akhiri.
lantas, yang ku rasa saat ini, kepedihan yang terdengar dalam dialog mu, membuatku ingin merespon mungkin, dengan cara itu aku bisa tau bagaimana ku mencintai karakteristikmu.

Perjamuan tatap dialog, dalam prataran dimensi lain, dan esoknya enggan untuk sekedar berdialog melalui udara tapi lebih berkesan dengan caramu, menatap setiap ekspresif plot dialogmu yang berbeda dari hari kehari.

Membuat ku, pulang tepat waktu dan tak sabar untuk menunggunya pulang dari rutinitas & berperan kembali dalam dimensi lain, yang ditunggu untuk merasakn percikan fantasi - fantasi baru dalam bab ini.

Tahap kompleksifikasi

Perjamuan waktu ke waktu, lengkaplah sudah kompleksifikasi secara bertahap,
dalam setiap perjamuan selalu ada hidangan dialog - dialog berupa jenis & rasa yang telah sama - sama kita teguk & kunyah tanpa ada perdebatan besar yang kiranya aku pikir ini sebuah tahap akhir dalam perjamuan berikutnya.

Mengharapkan, yang ku lihat dalam radar udara kan menjadi realitas dalam bentuk yang benar ada & hidup pada pengharapan yang seharusnya terwujud & berbuah manis pada panggung realitas ruang yang nyata antara aku & kamu.

Artinya, kau sudah siap tak sekedar singgah  dalam sepekan separuh waktu saja, belum sempat  terutarakan lebih, tapi sudah ku persiapkan segala konsekuensi bagaimana ku harus merelakan ego yang harus diredam untuk menjadi imbang saat bersamanya, namun sudah hilang dalam sepekan tanpa sepatah kata.


Pilar keyakinan yang merapuh ,


Pikirku berhamburan dihampir setiap malam, hanya bisa meratapi lorong kosong dalam ruang yang hilang, tak berpenghuni .
sesekali ku tatap layar ponsel dalam genggam tangan dan mengamati sesekali waktu yang terlewati tanpa arah pasti dalam pengharapan.

Cemas , tak berarah perih lirih yang tak terbentuk lagi bagaimana kah ku uraikan kembali rasa yang melebur menjadi kecewaku hingga dini pagi, kemudian tekat ku telurusi kembali jejak awal ku menemukanya di dimensi prantara ku mengklaim, jejak awalku jumpa denganya.

Kutemukan ruang lain sebuah halaman yang menjadi sesekali tempat ia singgah untuk jeda dari rutinitas harianya.
menyelinap dari balik pintu lain untuk tidak meninggali jejak yang akan ia kenali saat itu,
langkah terhenti tak sepatah kata terucap , air mata membendung praduga - praduganya & ku biarkan rasaku melebur, perihku saat kujumpa dirinya dengan realitasnya.

Kesaksian terbendung oleh si amatir 


Bungkam , tapi masih mengamati dari ruang prantara dimensi lain, segudang tanya  berusaha ku pendam tuk tak terutarakan menahan diri, dan mencoba memberikan tanda untuk ia kenali dalam dimensi prantara lain, namun tetap tak ada respon yang kuharap.

Dalam renungan pagi dini, ku bertanya kembali pada tuhan & palung hatiku.
secepat itukah sebuah dialog menciptakan  rasa yang perpanah dalam  rusuk rentan  menjadi seuntai kata tak berarti.
atau kah ku terlalu terbawa oleh plot  perjamuan dialog - dialognya ?

masih membungkam dan enggan untuk membuat semua kompleksifikasi ini menjadi hal yang jelas terurai, alur  yang ia mainkan.
dan kesan apa, yang ia isyaratkan dalam sepekan kemarin.


Panggung Sandiwara belaka

Pada akhirnya rasa terbawa oleh alurnya, katakan saja ku mulai jatuh cinta pada dialog sepekan kemarin cara ia menyampaikan & memberi pesan.
Pada fase ini jatuh cintaku itu bisa menjadi lelucon buatnya yang sudah berhasil membuatku terkesima.

Dalam panggung prantara dimensi lain, kiranya bisa ku wujudkan menjadi nyata dalam realitaku,

belum ,,,
semesta belum mengizinkan ku masuk ruang waktu berikutnya.
belum sempat ku mengutarakan tuk menghadirkanya  ke ruang realitasku ini,
mendengar dia diruang dimensi lain yang secara tak langsung, berdialog riya.

Setiap plot yang dimainkan, berhasil membawa ku dalam bayangan realitas yang sebenarnya, aaah lemah sekali ....
sekilas ku menghibur diri yang nyatanya memang rapuh dalam pengarapan semu ini,

Tekat kedua,  memberanikan diri menelusurinya diruang pratara itu, kemudian membuka pintu ku sendiri mencoba menyapa dan tanpa jawab ku sudah siapkan mental ini untuk tidak berharap lebih, dia kan merespon salamku.

Disambutlah, aku di ruang pratara lain, namun ku putuskan meredam kembali untuk merespon pesan terakhirnya, mencoba bermain amatir seperti peran yang ia mainkan dihadapanku.

Sudah , dua pekan dan kini masuk dalam pekan ketiga.  aku lebih mempersipkan diri untuk melihatnya lagi dengan relitasnya,

tapi ah sudah, lelahku di ujung penat menyaksikan dalam bisu tanpa mengakui bahwa ku ingin ia menjadi nyata dalam realitasku.


*Hai, awal dari ribuan sambutan yang sama dalam ruang - ruang pertemuan adam & hawa, awal kisah yang teruntai makna indah sebelum pada akhirnya terpisah oleh intensitas waktu yang tak pernah kekal dalam setiap kisahnya dan pada akhirnya kasih hanyalah sepenggalan kata tak bersenyawa yang tak mampu mengembalikan rasa yang timbul oleh senyawa yang berbeda*


Dan semua kan terkubur dan melebur dengan tanah seiring waktu, jadi apakah kita selanjutnya? saat kekuatan keyakinan menjanjikan kekal di kehidupan kemudian hari oleh kata yang tak bernyawa terucap dari senyawa lainya.
kita kan tetap berpijak dalam panggung - panggung plot dialog sandiwara  lainnya.
dengan buah karma di kehidupan sebelumnya.


💭 jangan di imani oleh keyakinan realitasmu ya, biarkan apa yang tertulis disini , menjadi seuntai makna pembelajaran setiap kata kata tak bersenyawa yang terangkai oleh jari jari nitizen seperti saya 🙊 



Dilema Pagi Dini



Menjadi bagian yang selalu di nanti setiap pagi & membuka mata untuk menjadi yang dirindukan kala pagi itu, selalu menjadi sebuah pengharapan sejak beberapa tahun silam, saat ku mulai rindu patron - patron waktu yang hilang saat besamanya. 
Membuka ketukan pintu,

Mulai, merindu dalam diam & menahan ekspetasi untuk jadi rindu, yang kian disambut baik dengan sinyal yang kuciptakan sendiri, beribu suara dalam pikir ini yang riuh berjudi menerka - nerka esok yang akan datang, apakah dia menerima suatu hukum atraksi gravitas yang kuciptakan sendiri dalam benak ini?!.


Satu dari kesekian konsep yang ku temukan ,pelajari & kini ku sadari bahwa aku berada di satu dari kesekian konsep yang tak seharusnya aku mainkan,
dua dari kemungkinan yang nantinya akan ku hadapi & ratapi. 
dimana aku akan ditempatkan dalam permainan labirinnya atau aku berhasil menempatkanya pada labirinku tuk menemukan teka teki ruang diantara aku & dia.

Kemudian , semesta menerima sinyal atraksi gravitasi ruang dilema ku ini, mereka mempunya cara sendiri untuk menyampaikan jawaban dari segala kegundahan kala malam itu, sendu yang ku rasa dalam abu - abu.

Pagiku yang kemudian berubah menjadi kelabu & kurasa ruang ini mulai mendingin ketika segala rasa yang sudah tertanam harus ku relakan terkubur, bahwasanya rasa ini ialah  ilusi semu yang ia ciptakan oleh kesan untuk menarikku dalam labirinnya & secara tidak langsung mengenalkanku dalam penderitan kecil yang ia rasakan dulu kala.


Dia, satu dari kesekian yang datang, yang singgah memberi kesan dalam setiap dialog - dialog diataranya kemudian pergi tanpa pesan, entah kesan apa yang membuatku jatuh terlalu  jauh dalam dimensi palung ilusi rasa yang baru ku pertanyakan inikah cinta?!.


Pada akhirnya kata rindu hanyalah pesan kembali untuk tidak memasuki ruang lain mengenai dirinya, dan kata cinta yang ku pertanyakan dalam waktu singkat ini hanyalah jebakan dimensi ilusi semu dengan berekspetasi riya ku pilih bersama ego dalam tempo singkat tanpa pertimbangan logis warasku.


Ego,
 Kembali yang ku pilih dalam waktu singkat tanpa logis, kiranya ini yang selalu ku sombongkan ketika dengan yakin tuk menutup pintu dan tidak mempersilahkan orang lain yang kurang berkesan bagiku saat mengetuk pintu ruang hatiku tuk sekedar  singgah  berbincang sesaat.

Pada fase berikutnya aku sadar, bagian ini hanya meninggalkan goresan-goresan  ruam kecil dalam ruang ini dan berkotemplasi dengan dilema kembali, beragumentasi sendiri antara ekspetasi riaku & realitas yang tak pernah sejalan dan ku putuskan untuk membawa namanya dalam doa & bermeditasi diri.

        Melaraskan Warasku, 

Bukan untuk belajar melupakan-nya, melaikan merelakan yang telah terjadi, tetap mengingatnya dan aku baik- baik saja oleh kehadiranya, jika suatu saat nanti rasanya kembali & ruam ini mulai menginsyaratkan rasanya, aku bisa beragumentasi baik & bernegoisasi waras dengan kehadiran-nya.

Karna ku cukup sadar untuk mulai mencintai diriku untuk tidak membiarkan hatiku menikmati rasa terbawa lara & pedih oleh ego - ego diri yang tak pernah selaras dengan realitas, menyayangi tubuh yang sudah letih dehidrasi karna seisi otak yang tak mau berdamai diri membiarkan ruh ku hidup diwaktunya, tidak dengan menguncinya saat dia harusnya masuk alam mimpi. 


sampai berjumpa di ruam dilema  selanjutnya. 😄🙏